Potensi Duel Permainan Sayap di Final Liga Europa

Potensi Duel Permainan Sayap di Final Liga EuropaSeperti kata pepatah “Ada banyak jalan menuju Roma”, begitu juga dengan jalan menuju fase grup Liga Champions UEFA musim depan. Bagi Ajax Amsterdam, memenangi final Liga Europa UEFA di Friends Arena, Solna, Stockholm, Swedia, Kamis (25/05/2017) dinihari WIB nanti, adalah salah satu jalan menuju fase grup Liga Champions musim depan. Tapi bagi Manchester United, menjuarai final nanti adalah satu-satunya jalan jika mereka ingin berlaga di Liga Champions musim depan.

Ajax, yang finis di peringkat kedua Eredivisie Belanda di bawah Feyenoord Amsterdam sebenarnya sudah memastikan diri lolos ke kualifikasi play-off (league route) Liga Champions musim. Musim ini mereka juga melewati fase play-off kompetisi teratas antar kesebelasan Eropa tersebut lalu tersingkir ke Liga Europa (menang melawan PAOK tapi selanjutnya kalah dari Rostov).

Mereka juga mengincar trofi pertama mereka di bawah arahan manajer Peter Bosz sejak ia menangani kesebelasan ibukota Belanda tersebut di awal musim ini.

Sementara itu, United yang diasuh oleh José Mourinho akan melakukan segalanya karena sudah memprioritaskan Liga Europa dibandingkan dengan Premier League. Di liga domestik, penampilan United tidak sesuai harapan. Dengan finis di luar empat besar, tepatnya di peringkat keenam, maka mereka tidak memiliki solusi lain untuk ke Liga Champions selain dengan menjuarai Liga Europa.

Meskipun Liga Europa hanya merupakan “kompetisi kelas dua” di Eropa, akan menarik melihat dua kesebelasan ini yang akan bertarung di Swedia dinihari nanti. Ajax yang memiliki julukan “Anak-anak Tuhan” akan menghadapi United yang dijuluki “Setan Merah”; pertandingan ini secara harafiah adalah sebuah duel yang saling bertentangan.

Sekilas Perjalanan Ajax dan Man United

Untuk Ajax, final Liga Europa ini dimainkan 22 tahun setelah mereka memenangkan trofi Eropa terakhir mereka (mengalahkan AC Milan di final Liga Champions 1995). Tapi mereka sendiri berhasil mencapai final di Liga Champions 1996 meskipun dikalahkan oleh Juventus melalui adu penalti.

Final ini juga merupakan final ke-15 mereka di kompetisi UEFA di mana mereka berhasil memenangkan 14 di antaranya. Ketika kompetisi ini masih bernama Piala UEFA, Ajax berhasil meraih juara pada 1992 setelah mengalahkan Torino.

Tidak diragukan lagi, Ajax yang memiliki rata-rata usia para pemain 22 tahun 6 bulan, adalah salah satu kesebelasan yang paling menghibur di Liga Europa musim ini. Mereka menjadi kesebelasan yang paling banyak melakukan tembakan (225 tembakan) dan tembakan tepat sasaran (95 on target).

Meskipun demikian, sejak Ajax lolos sebagai juara Grup G, mereka sudah kalah tiga kali dari enam pertandingan terakhir mereka di kompetisi ini. Sejak babak 16 besar melawan FC Copenhagen, kekalahan-kekalahan tersebut selalu mereka alami saat melakukan pertandingan di luar kandang mereka, Amsterdam ArenA.

Beralih ke “Setan Merah”, jujur saja berkompetisi di Liga Europa sebenarnya menjadi hal yang mengesalkan bagi Mourinho. Ia pun mengakuinya sejak awal musim. Akan tetapi, United terpaksa harus berkonsentrasi di “Liga Malam Jumat” ini untuk bisa mencapai Liga Champions musim depan.

Di Premier League, United tertinggal tujuh poin dari peringkat empat besar. Meskipun mereka sudah mendapatkan dua trofi musim ini, yaitu Community Shield dan Piala Liga Inggris (EFL Cup), tidak diragukan lagi final nanti adalah pertandingan terbesar dan terpenting mereka di musim ini, apalagi ini juga merupakan pertandingan terakhir.

Sejak kalah 1-2 dari Fenerbahçe di babak grup, yang juga secara tidak langsung membuat MU hanya lolos sebagai runner-up Grup G, mereka tidak terkalahkan di Eropa dengan memenangkan tujuh dari 10 pertandingan.

Tapi itu di Eropa saja, karena jika kita melihat secara keseluruhan, kemenangan United atas Crystal Palace di pekan terakhir Premier League akhir pekan lalu adalah kemenangan pertama mereka selama hampir satu bulan ini.

Mourinho tentunya ingin menampilkan permainan terbaiknya, apalagi ini adalah final ke-11 United di Eropa di mana mereka sudah kalah dalam tiga final terakhir. Trofi Liga Europa ini juga adalah satu-satunya trofi yang belum dimiliki oleh United.

Dengan mendapatkan trofi ini, United akan menjadi kesebelasan Eropa yang berhasil memenangkan tiga trofi utama kompetisi antar kesebelasan Eropa (Liga Champions/Piala Eropa, Liga Europa/Piala UEFA, dan Piala Winners yang sudah almarhum) bersama dengan Juventus, Bayern München, Chelsea, dan, tentunya: Ajax.

Potensi Duel Permainan Sayap

Beralih ke hal yang lebih taktikal, kita mungkin sebaiknya tidak berekspektasi berlebihan dinihari nanti. Meskipun di atas kertas United adalah kesebelasan yang lebih diunggulkan daripada Ajax, tapi bukan berarti Ajax akan bermain lebih bertahan.

Memainkan pola 4-3-3, Bosz biasanya memasang trio yang berisikan penyerang Kasper Dolberg dengan diapit oleh dua winger, yaitu Amin Younes dan Bertrand Traoré yang dipinjamkan dari Chelsea.

Dari 24 gol yang berhasil Ajax ciptakan di Liga Europa, Dolberg menyumbangkan enam gol sementara Younes dan Traoré masing-masing empat. Sementara, United berhasil menciptakan 23 gol dengan Zlatan Ibrahimović dan Henrikh Mkhitaryan masing-masing menciptakan lima gol. Namun, Ibrahimović gagal tampil di kampung halamannya dinihari nanti karena menderita cedera lutut.

Absennya Ibrahimović ini banyak memengaruhi penyerangan United. Negatifnya, mereka menjadi seperti sulit mencetak gol. Tapi positifnya, melalui Marcus Rashford penyerangan United dianggap lebih memiliki kecepatan.

Selain soal penyerangan, penguasaan bola juga menjadi hal yang diunggulkan dari kedua kesebelasan. Ajax memimpin statistik penguasaan bola di Eredivisie dengan 59,7% possession per pertandingan. Akan tetapi di Liga Europa di mana Ajax berhadapan dengan kesebelasan-kesebelasan yang di atas kertas lebih tangguh daripada di Eredivisie, mereka hanya mampu mencatatkan 55% possession per pertandingan dibandingkan dengan 60% milik United.

Selama ini Mourinho dicap sebagai manajer yang menerapkan permianan defensif. Namun, dari seluruh dominasi penguasaan bola United baik di Liga Europa maupun di Premier League, United kebanyakan melakukannya di setengah lapangan milik lawan, sementara Ajax sebaliknya.

Para pemain bertahan Ajax biasanya akan memainkan operan-operan di belakang, untuk memperlambat permainan sambil menunggu celah. Sedangkan United mungkin akan melakukan pendekatan yang lebih defensif jika mereka melawan kesebelasan yang lebih tangguh. Akan tetapi, melihat lawan mereka adalah Ajax, rasanya Mourinho akan menyetel kesebelasannya untuk lebih menekan melalui Ander Herrera.

Pemain asal Spanyol ini berpotensi ditugaskan menutup jalur distribusi bola yang biasa dialirkan oleh kapten Davy Klaassen dan gelandang bertahan Lasse Schöne. Sementara Paul Pogba akan lebih ditugaskan untuk mencari celah melalui operan-operan terobosan lewat tengah lapangan.

Oleh karena itu, jika Bosz ingin memainkan filosofinya yang seperti biasa, yaitu possession, maka ia harus balik menekan Herrera dan Pogba.

Duel permainan sayap juga akan berpotensi terjadi dinihari nanti. Secara statistik, Ajax lebih banyak melakukan dribble di daerah sayap, sedangkan United lebih banyak melakukan umpan silang dari sayap.

Melalui permainan winger Hakim Ziyech, Ajax memiliki seorang kreator, apalagi jika dikombinasikan dengan serangan balik. Pemain asal Maroko ini sudah membuat 37 peluang yang mepat di antaranya menghasilkan assist.

Ajax juga lebih melakukan pendekatan yang langsung dalam menyerang. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah operan di sepertiga lapangan akhir mereka, yaitu 769 operan berbanding dengan 977 milik United yang lebih bertele-tele di bagian lapangan daerah lawan.

Prediksi

Ajax Amsterdam dan Manchester United sama-sama harus kehilangan bek mereka di final kali ini, Nick Viergever dan Eric Bertrand Baily masing-masing mendapatkan kartu merah pada semifinal leg kedua Liga Europa.

Peter Bosz tidak memiliki masalah cedera selain Daley Sinkgraven. Sementara José Mourinho harus kehilangan Marcos Rojo, Luke Shaw, Ashley Young, dan Zlatan Ibrahimović akibat cedera. Chris Smalling juga dikabarkan memiliki “sedikit masalah” cedera.

Dengan absennya Baily, Rojo, dan kemungkinan Smalling, maka Mourinho kemungkinan akan memainkan duet Phil Jones dengan Daley Blind.

Bermainnya Blind ini akan membuat dimensi build-up serangan United akan semakin kaya, namun di sisi lain juga akan menunjukkan kelemahan mereka melalui duel udara, apalagi ketika menghadapi set-piece di mana Davinson Sánchez, Bertrand Traoré, dan Kasper Dolberg unggul. Hal ini akan memaksa Mourinho memainkan Marouane Fellaini sejak awal pertandingan.

Selain itu, melihat jadwal ke belakang, Ajax sebenarnya memiliki waktu istirahat yang lebih lapang daripada United. Terakhir kali Ajax bermain adalah 10 hari yang lalu, sementara United adalah tiga hari yang lalu.

Pertandingan terakhir antara Ajax dan United sendiri terjadi pada babak 32 besar Liga Europa 2011/2012 dengan kemenangan United (United menang 2-0 di Amsterdam dan kalah 1-2 di Old Trafford).

Jika kita meninjau dari cara bermain kedua kesebelasan, Ajax menjadi kesebelasan yang lebih banyak mencetak gol, mencatatkan shot on target, membuat assist, dan dribble sukses sepanjang Liga Europa musim ini.

Sementara itu, United lebih banyak menghabiskan permainan mereka dengan penguasaan bola, jumlah operan (termasuk di sepertiga lapangan akhir), dan umpan silang di Liga Europa musim ini jika dibandingkan dengan lawannya tersebut dinihari nanti.

Secara defensif, Ajax lebih banyak mencatatkan aksi defensif (intersep, sapuan, tekel, dan blok) sementara United lebih banyak mencatatkan penyelematan. Penjaga gawang Sergio Romero kemungkinan besar akan dimainkan alih-alih David De Gea.

Melihat angka-angka di atas, memang sulit untuk memprediksi hasil akhir, sehingga pertandingan bisa saja berakhir imbang dan harus dilanjutkan ke babak adu penalti. Namun, melihat Mourinho yang sudah banyak mengorbankan penampilan United untuk pertandingan ini, rasanya akan hambar jika United hanya datang ke Stockholm untuk menguasai pertandingan, bukan memenanginya.

Apalagi “Setan Merah” dituntut untuk lolos ke Liga Champions musim depan, seharusnya ini menjadi motivasi yang tidak perlu didefinisikan lagi untuk kesebelasan sekelas Manchester United, kecuali memang mereka sudah benar-benar tidak “seberkelas” itu lagi untuk bermain di Liga Champions musim depan.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*