Man United terbitkan kembali senyum di wajah warga Manchester

Man United terbitkan kembali senyum di wajah warga Manchester

Ini memang “hanya” Liga Europa, yang mungkin tak berarti banyak bagi klub sekelas Manchester United. Tetapi, setelah berbagai kesulitan yang mereka hadapi sepanjang musim dan tragedi terorisme yang terjadi di kota tersebut, mungkin inilah salah satu trofi terpenting yang pernah mereka angkat.

Pada final kompetisi “kelas dua” di Eropa itu, United menang 2-0 atas Ajax di Friends Arena, Stockholm, Swedia. Pemain termahal Setan Merah saat ini, Paul Pogba, membuka skor pada menit ke-18 dan, tiga menit usai istirahat, tendangan Henrik Mkhitaryan memperlebar jarak. Ajax tak bisa mengejarnya hingga peluit akhir berbunyi.

Para pemain dan penggemar Setan Merah terlihat amat emosional menyambut kemenangan tersebut. Mereka sadar bahwa kemenangan ini bisa membantu kota yang tengah berduka setelah bom bunuh diri di luar Manchester Arena pada Senin (22/5), menewaskan 22 orang dan mencederai puluhan lainnya.

United, setidaknya, bisa membuat warga Manchester tersenyum dan sejenak melupakan tragedi yang pastinya meninggalkan trauma mendalam itu.

“Saya ingin mendedikasikan (trofi ini, red.) kepada para korban. Kami menginginkan perdamaian di dunia. Mari kita bekerja bersama untuk membangun dunia yang normal,” kata gelandang United, Ander Herrera, seperti dikutip The Telegraph.

Para suporter Manchester United membentangkan bendera bertuliskan "United Against Terrorism" sebelum pertandingan final Liga Europa menghadapi Ajax di Stockholm, Swedia, Rabu (24/5/2017).

Suasana duka memang masih menyelimuti para penggemar United yang datang ke Stockholm, membawa berbagai spanduk yang bertuliskan kalimat untuk mendorong agar mereka bisa bangkit bersama dari ketakutan yang coba ditebarkan teroris.

Panitia penyelenggara final pun menghormati tamu dari Manchester itu dengan tidak menyelenggarakan acara pertunjukan sebelum laga digelar.

“Apa yang kami ingin lakukan jelas untuk mewakili Manchester dalam cara terbaik; kami ingin para suporter mewakili Manchester dan kami ingin tim sepak bola itu mewakili Manchester, dan menunjukkan semangat Manchester,” kata Sean Bones dari Manchester United Supporters Trust.

Semangat Manchester itulah yang ditunjukkan Pogba dkk. Mereka bermain amat efektif, mengajarkan kepada para pemain muda Ajax –yang menjadi tim termuda yang pernah bermain pada final turnamen Eropa dengan rata-rata usia 22 tahun dan 280 hari– cara untuk memanfaatkan peluang.

Ajax menguasai 69 persen bola tapi hanya tiga tendangan pemain mereka yang mengarah ke gawang David de Gea. United, walau tak banyak menguasai bola, berhasil mengarahkannya empat kali ke gawang Ajax dan dua di antaranya masuk ke gawang.

Semangat muda kali ini kalah dari pengalaman dan pragmatisme, sebuah kata yang selalu bersanding dengan Jose Mourinho, sang pelatih United.

Berbicara soal Mourinho, tentu saja ia amat lega. Setelah berbagai kesulitan yang dialami timnya, ia bisa mengakhiri musim debutnya dengan tiga trofi –Community Shield, EFL Cup, dan Liga Europa– dan, ini yang paling melegakannya, satu tiket langsung ke babak grup Liga Champions musim depan.

Keberhasilan lolos ke Liga Champions itu bakal berdampak besar bagi keuangan klub karena pada kontrak dengan perusahaan apparel, Adidas, ada klausa yang menyatakan United mesti membayar denda GBP23 juta (Rp397,11 miliar) jika gagal ke Liga Champions musim depan.

Jika gagal, bisa dipastikan para pemain yang tengah diincar Mourinho, seperti Antoine Griezmann, Romelu Lukaku, dan Andrea Belotti, bakal sulit dibawa ke Old Trafford.

“Sekarang saya akan berlibur,” ujar Mourinho kepada ESPN FC. “Saya tidak mau menyaksikan pertandingan persahabatan. Saya egoistis.”

“Bagi saya, sudah cukup. Bulan-bulan terakhir telah berjalan amat berat, tetapi tiga piala dalam satu musim dan (lolos ke) Liga Champions. Saya sangat gembira pada musim tersulit yang pernah saya alami sebagai seorang manajer.”

Kemenangan ini membuat Mourinho selalu menang dalam final kompetisi Eropa. Ia membawa FC Porto menjuarai Piala UEFA 2003 dan Liga Champions 2004, kemudian merebut trofi Liga Champions 2010 bersama Inter Milan.

Sementara itu pelatih Ajax, Peter Bosz, mengakui bahwa para pemain mudanya amat gugup menghadapi laga besar pertama dalam karier mereka sehingga tak bisa mengeluarkan kemampuan terbaik mereka.

“Saya kecewa karena Anda mesti bermain di final dengan tekad untuk menang. Kami tidak melakukan itu. Saya tak menyaksikan Ajax yang sebenarnya,” jelas Bosz kepada BBC.

Walau demikian, ia yakin para pemain muda itu telah belajar banyak dari pertandingan melawan salah satu klub terbesar di dunia sepak bola itu.

“Bagi semua pemain, ini adalah final pertama. Mereka akan belajar banyak dan menjadi lebih kuat. Jika kami bisa mempertahankan skuat ini, kami akan lebih kuat musim depan,” pungkas Bosz.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*