Ini Penjelasan Mourinho Soal Gestur Kontroversialnya di Final Liga Europa

Ini Penjelasan Mourinho Soal Gestur Kontroversialnya di Final Liga Europa

Jose Mourinho mengangkat jarinya beberapa detik sebelum peluit akhir final Liga Europa berbunyi. Aksinya ini menjadi pembahasan usai Phil Neville berspekulasi negatif atas aksi Mourinho itu.

Menurut mantan bek Manchester United tersebut, aksi Mourinho ini ditujukan kepada media yang ada di kotak pers di belakang bangku cadangan Friends Arsena. Alasannya karena media banyak memberitakan hal negatif tentang Mourinho dan hasil yang didapat United.

Namun Mourinho memastikan tujuannya bukan seperti yang disangkakan Neville, karena sebenarnya itu adalah isyarat untuk keluarganya yang hadir di Friends Arena.

“Itu untuk keluarga saya,” kata Mourinho.

“Kami memiliki beberapa kode yang digunakan hanya di kalangan kami, mereka tahu itu apa. Apa yang saya katakan mungkin sesuatu yang mereka katakan sebelum pertandingan, tetapi itu antara saya dan mereka,” papar Mou dikutip dari manchestereveningnews.co.uk (25/5).

Sebenarnya gestur seperti ini bukan yang pertama kali ditunjukkan Mourinho. Saat menjuarai Liga Champions bersama Internazionale pada 2010, pelatih asal Portugal ini juga melakukan hal serupa.

Dari empat final Mourinho di kompetisi Eropa, timnya tidak pernah tertinggal lebih dulu. Namun kali ini Manchester United jauh dari kata bahaya melawan Ajax yang mengandalkan kecepatan dan aksi individu para pemain muda Eredivisie.

Manchester United membuka skor lewat tendangan deflected Paul Pogba dan kemudian Henrikh Mkhitaryan mencetak gol kedua dengan tendangan akrobatik.

Menurut Mourinho pendekatan sederhana dengan memanfaatkan kelemahan Ajax membantu United memenangkan final Liga Europa kali ini.

“Jika saya menjawab Anda mungkin final berikutnya saya kalah 3-0 pada babak pertama,” katanya ketika ditanya kemampuannya tidak kebobolan terlebih dahulu di laga final kompetisi Eropa.

“Dan kemudian saya kehilangan cara sederhana ini di final,”

“Jika saya mengatakan tentang diri saya, sayang sangat sederhana bermain di final, saya menghormati lawan, saya mempelajari lawan, saya mencoba menghormati kekuatan lawan untuk memahami kelemahan mereka,”

“Jadi, jika saya mengatakan sesuatu tentang final saya – bukan hanya final Eropa, tetapi yang lainnya juga di mana saya menang dan kalah beberapa kali. Suatu nilai di tim saya adalah kita harus selalu rendah hati,” pungkas Mourinho.

Kemenangan di final Liga Europa sekaligus memastikan Manchester United ke fase grup Liga Champions musim depan, misi yang gagal mereka wujudkan lewat jalur Premier League.

Kecuali itu, kini lemari trofi Setan Merah sudah lengkap karena gelar Europa League belum pernah singgah ke Old Trafford. (Sumber: manchestereveningnews.co.uk)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*