Cerezo Osaka Wajib Petik Pelajaran Dari Kekalahan

Cerezo Osaka Wajib Petik Pelajaran Dari Kekalahan

Cerezo Osaka sempat berjaya lewat raihan delapan kemenangan konsekutif sejak laga menghadapi Urawa Reds pada 6 Maret silam. Andai merengkuh poin penuh saat bertanding kontra Kashiwa Reysol, 6 Mei kemarin, Cerezo akan merangsek ke papan atas klasemen J1 League 2017, bersama Kashima Antlers, Urawa, serta Gamba Osaka.

Oleh karena itu, duel lawan Kashiwa amatlah penting.

Pada hari pertandingan, pelatih Cerezo Yoon Jong-hwan memasang starting eleven yang sama dengan partai sebelumnya versus Kawasaki Frontale. Sang bos menurunkan line-up terkuat di lapangan.

Tim melakoni start bagus dengan ritme permainan seperti yang diharapkan. Hiroshi Kiyotake bermain fleksibel, bergeser dari kanan ke tengah, lalu ke kiri. Itu membingungkan bek-bek lawan yang mencoba menghentikannya.

Riku Matsuda dan Kazuya Yamamura berusaha menciptakan peluang, bergerak ke kanan atau melepas umpan silang. Manuver ini kerap terlihat tidak hanya dalam pertandingan ini, tetapi juga dalam beberapa laga terakhir. Koordinasi dan keluwesan mereka tampak telah meningkat.

Kans terbaik tiba pada injury time babak pertama. Kiyotake mengoper kepada Yoichiro Kakitani. Si No 8 mendribel bola dan pura-pura akan menendang sebelum memberikan umpan untuk Kenyu Sugimoto, yang berhasil mengelabui bek Shinnosuke Natakani namun penyelesaiannya tak menemui sasaran.

Sugimoto amat menyesalkan kegagalan tersebut.

“Itu adalah kesempatan emas, tetapi saya tak bisa menjaga fokus dengan tenang di saat akhir. Pemain depan seperti saya harus mencetak gol. Jadi ini merupakan masalah yang mesti saya atasi,” tuturnya selepas pertandingan.

Kalau saja berhasil mencetak gol saat itu, Sugimoto akan terbebas dari tekanan yang ia rasakan.

Temperatur meningkat di babak kedua, membuat para pemain sulit fokus pada permainan mereka, dan hal ini memicu kesalahan fatal untuk Cerezo. 12 menit pascaturun minum, Yusuke Maruhashi menghalau tendangan dari Cristiano, striker andalan Kashiwa. Sayang, upaya clearance tersebut terdefleksi setelah mengenai lagi Cristiano dan menggelinding masuk ke dalam gawang. Musim ini sebagian besar kemenangan Cerezo diamankan di baak pertama sehingga gol pembuka Kashiwa tersebut menjadi pukulan telak.

Gol Cristiano menempatkan Cerezo dalam tekanan hebat. Apalagi Kashiwa terus mengkreasi peluang-peluang untuk menggandakan keunguglan. Pelatih Yoon lantas mengambil keputusan berani, menarik keluar Souza dan Kazuya Yamamura guna menyuntikkan Kunimitsu Sekiguchi dan Yasuki Kimoto. Pun demikian, Cerezo tetap tak mampu menemukan gol balasan.

Menginjak masa injury, Kiyotake melepaskan tembakan keras dari jarak jauh, namun itu membuahkan hasil. Saya pikir laga ini membuktikan Cerezo tak mampu memaksimalkan peluang-peluang yang didapat. Cerezo akhirnya tumbang pascadelapan kemenangan beruntun, mengakibatkan tim merosot ke peringkat ketujuh di tabel klasemen.

Ada dua isu utama terkait kekalahan ini. Pertama adalah mereka tak dapat mencetak gol pembuka, yang menjadi persoalan klasik Cerezo. Para penyerang tak berkutik di hadapan dua bek tengah muda Kashiwa, Yuta Nakayama yang berusia 20 dan sang youngster 21 tahun Nakatani.

Problem lainnya adalah mentalitas dan performa mereka tidak cukup bagus. Mereka tak kuasa bangkit usai kebobolan gol pembuka. Dengan mental yang kuat, tenang untuk membentuk kembali koordinasi yang baik, dan merepotkan lawan dengan taktik yang terkalkulasi, mereka akan memiliki peluang besar untuk setidaknya membukukan hasil imbang 1-1.

Pemuncak klasemen Kashima Antlers, yang mengalahkan Urawa pada 6 Mei, memiliki variasi taktik bagus sehingga tak mengherankan mereka telah menyabet banyak titel. Cerezo sendiri belum berhasil memenangi gelar setelah promosi ke J1. Mereka wajib mengambil pelajaran penting dari kekalahan ini.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*